Tampilkan postingan dengan label fanfiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fanfiction. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Juni 2013

Doubt


Doubt
Bleach © Kubo Tite fan fiction
Warning: OOC, typo, mention of Bleach 530 and 531, spekulasi sotoy
.
.
Turning Tables – Adele
.
.
                Kota Karakura, 4 Juni, pukul 20.45.
                Hujan terus mengguyur kota kecil yang permai itu. Butiran air dari angkasa terus berjatuhan sejak matahari menyembunyikan tubuh benderangnya di balik garis horizon. Awan kelabu menyelimuti langit biru yang seharusnya menampakkan diri sepanjang hari ini—sepertinya baru kali ini prakiraan cuaca televisi meleset perhitungannya.
                Di pinggiran kota, berdirilah sebuah rumah. Bukan rumah urban seperti di daerah Minamikawase atau yang berada di pusat kota. Namun sebuah rumah peninggalan zaman Meiji. Pagar besi gelap menjulang tajam di puncaknya, membentengi rumah bergaya Victoria itu yang berdiri angkuh memamerkan kejayaan masanya. Penerangan minim di sekitar kediaman di sana menambah suasana angker dan soliter. Tak lupa, di gerbang utama terpampang besar plat nama pemilik rumah mewah itu, ‘ISHIDA’.
                Semua jendela di rumah itu tertutup oleh tirai beludru yang tebal, kecuali satu. Sebuah lampu meja menyala dari balik jendela lebar itu. Sinar lampu itu tidak menerangi keseluruhan ruangan, tetapi bisa disimpulkan bahwa ruangan itu bernama kamar tidur. Sebuah tempat tidur king-sized diduduki oleh seorang gadis yang sedang membenamkan wajahnya ke guling putih yang ia peluk. Kedua kakinya dia rapatkan ke tubuhnya.
                Bila disimak baik-baik, deru napas pendek keluar dari bibir gadis itu. Sekujur tubuhnya gemetar hebat. Di kejauhan sana, sebuah petir terdengar nyaring membuat sang gadis terlonjak kaget dari tempat duduknya.
                Seharusnya hari ini kota Karakura tidak hujan. Pagi tadi, pembawa acara TV dengan ceria telah memberitahukan para pemirsa bahwa cuaca Karakura sangat cerah sehingga  tak perlu repot menenteng payung ke mana-mana. Namun, ketika pelayan keluarga Ishida, Katagiri, memanggil sang gadis untuk turun karena makan malam sudah siap, hujan pun tumpah ruah membasahi Bumi.
                “Oh, hujan,” gumam Katagiri sambil membukakan pintu menuju ruang makan untuk Masaki. Dentuman air bertemu tanah terdengar riuh di halaman rumah. Seketika, tubuh Masaki menegang.
                Merasakan ketidaknyamanan sang gadis Quincy, Katagiri bertanya, “Masaki-sama? Anda baik-baik saja?”
                “Ah,” suara Masaki sedikit pecah tetapi berhasil ia kontrol, “tidak apa-apa, Katagiri. Aku hanya kelaparan.”
                Katagiri mengembangkan senyum sopan, “Hari ini saya memasak gelatin udang untuk makan malam. Semoga Anda tidak keberatan.”
                “Tidak, tidak, aku tidak keberatan,” Masaki memberi senyum ceria. Dia selalu menyukai masakan Katagiri yang enak-enak.  Meski yang pelayan itu masak selalu masakan Barat, Masaki tak pernah keberatan. Masakan buatan Katagiri selalu berhasil mencerahkan suasana hatinya.
                Tak lama kemudian, Masaki menikmati makan malamnya bersama Bibi Ishida. Suasana ruang makan itu terasa berat. Keberadaan Bibi Ishida selalu membuat Masaki lebih mawas diri. Dia harus duduk lebih tegak, mengusahakan kedua sikunya tidak menyentuh meja, serta dengan hati-hati memotong daging gelatin tanpa suara.
                Lagi pula, dia harus membuktikan pada Bibi bahwa dirinya layak menjadi seorang pengantin Quincy. Tangannya pun langsung sibuk merapikan kerutan rok sailor fuku-nya
                Guyuran hujan yang semakin berat tidak memperbaiki atmosfir di antara mereka. Bulu kuduk Masaki mulai berdiri. Setiap gerakan tubuhnya terasa kaku.
                “Bagaimana sekolahmu, Masaki-san?” Bibi Ishida angkat bicara. Seperti biasa, formal dan kaku pada calon menantunya.
                “Oh, itu, emm,” Masaki memutar otak mencari kata-kata yang tepat. “ Oh iya! Aku baru sadar kalau murid di sekolah bisa menambah sayur kubis dan acar saat makan siang!” Bodoh kau, rutuk si gadis dalam hati. Mengapa malah itu yang keluar?
                Bibi Ishida mengangguk, “Begitu. Lalu, bagaimana dengan pelatihanmu?” Ini jelas pertanyaan yang sedari tadi wanita itu ingin tanyakan.
                Temperatur ruangan mulai menurun beberapa derajat. Pertanyaan itu membuat Masaki salah tingkah. Bibi tidak akan senang mendengar jawabannya.
                “Pelatihan, yah, aku sudah bisa,” dalam setiap kata suara Masaki terus mengecil. “Sedikit,” tambahnya. Dalam hati ia menghitung. Satu, dua, tiga…
                “SEDIKIT!” Bibi Ishida tiba-tiba berdiri sambil memukul meja makan, membuat peralatan makan ikut bergetar. Masaki langsung melorot dalam kursinya.
                “Sadarkah kau berada di mana posisimu sekarang?!” nada bicara wanita itu meninggi. “Orang tuamu sudah tidak ada dan kau adalah anak tunggal! Seharusnya kau sadar posisimu sebagai pewaris keluarga Kurosaki, pewaris kekuatan Quincy di keluargamu!”
                Amarah Nyonya Ishida telah meledak dan Masaki harus mencari cara untuk mengganti topik pembicaraan. Mengapa hari ini cepat sekali berubah menjadi bencana?
                Cepat-cepat, pewaris Kurosaki itu memasang tampang polos, “Ya, aku tahu itu. Ngomong-ngomong, gelatinnya enak sekali.” Batinnya menjerit-menjerit: salah lagi!
                Sepertinya omelan Bibi Ishida tidak akan berhenti andaikan putranya, Ryuuken, tidak menegurnya. “Ibu, hentikan. Aku bisa mendengar suara Ibu dari luar.”
                Masaki menyaksikan ibu-anak itu saling berinteraksi. Begitu dingin dan kaku, kontras sekali dengan keluarganya dulu.
                Setelah Bibi keluar dari ruang makan, si gadis langsung menata diri lagi. Dia harus tetap ceria di depan Ryuuken, calon suaminya. Bicara soal Ryuuken, hari ini dia terlihat santai dengan sweater serta kemeja kotak-kotak.
                Ryuuken melempar senyum pahit, “Maafkan ibuku, Masaki. Beliau hanya melampiaskan stresnya padamu.”
                Lebih dari itu, Ryuu-chan, batin Masaki berkomentar. “Kamu ini bicara apa, Ryuu-chan? Itu semua bukan masalah bagiku. Aku baik-baik saja, kok!” si gadis menyelipkan intonasi ceria dalam setiap kata, meyakinkan tunangannya. Ryuuken tetap diam menanggapi keceriaan tunangannya.
                Aku harus keluar dari sini. “Terima kasih untuk makan malamnya! Ngomong-ngomong, gelatin udangnya enak banget! Nyesel kalau nggak dimakan. Kalau kamu nggak mau  berikan saja padaku, ok!” Dengan itu, Masaki berlari kecil menuju kamarnya. Satu-satunya tempat  dimana ia bisa tenang dan menumpahkan perasaannya.
                Kombinasi hujan dan omelan Bibi benar-benar sudah menyenggol batas kesabarannya. Setibanya di kamar tidurnya yang luas, dia langsung memeluk guling kesayangannya dan menangis.
xxxxxx
                Di dunia yang tak mengenal humanitas ini, Masaki telah belajar menjadi seorang aktris. Agar musuh tidak dapat menerka suasana hatinya. Kecuali dalam situasi ini, supaya tunangannya tidak mengkhawatirkannya.
                Masaki sadar tanggung jawabnya sebagai Quincy. Sebagai anak satu-satunya dari keluarga Kurosaki yang nyaris punah. Sebagai seorang perempuan yang berkewajiban meneruskan darah murni Quincy mulia kepada anak-anaknya. Terkadang semua itu membebaninya. Tetapi ia seorang aktris yang piawai. Masaki pandai menyembunyikan perasaannya.
                Guntur yang melolong serta ledakan petir yang merintih membuat Masaki selalu ingat sebuah waktu di sudut memorinya. Di tengah hujan, ketika keluarganya dibantai oleh segerombolan musuh. Musuh dalam pakaian serba hitam dan sebilah pedang. Musuh yang menamai diri mereka sebagai Shinigami. Musuh bebuyutan Quincy karena alasan yang menggelikan.
                Sebenarnya, nasib Masaki cukup beruntung. Dia dibesarkan dalam keluarga Quincy yang moderat dan berpikiran maju. Keluarganya tak pernah memandang Shinigami sebagai musuh dalam pertarungan, malah sebagai rekan kerja yang masih belum mencapai kata sepakat. Mengingat sesungguhnya tujuan hidup mereka itu sama, yaitu untuk membasmi hollow. Namun, teknik pembasmian yang berbeda di antara dua kelompok itu yang membuat mereka berselisih paham hingga menimbulkan pertumpahan darah ratusan tahun yang lalu. Jika dipikirkan secara objektif, segalanya terasa sangat kekanak-kanakkan.
                Tapi siapa yang mau mendengar pendapat seorang gadis kemarin sore seperti dirinya? Tidak ada. Kecuali Ishida Souken dan mendiang ayahnya.
                Mungkin karena persamaan sudut pandang kedua pria itu, mereka menjalin hubungan persahabatan yang erat. Hal itu membuat sang ayah mempercayakan dirinya kepada keluarga Ishida, yang mungkin mengira bahwa persamaan visi misi ini akan mengantarkan pada sebuah pernikahan yang menguntungkan kedua belah pihak.
                Sangat sulit untuk menemukan keluarga sesama darah murni pada saat ini. Nyaris kakek buyut mereka dibantai pada masa perang berdarah dua ratus tahun silam. Mereka yang tersisa segera bersembunyi dari pengawasan ketat agen-agen Shinigami dan mengamankan diri dengan berbagai cara, salah satunya melalui pernikahan. Demi menghasilkan keturunan yang secara fisik dan spiritual mampu menjadi Quincy—serta mampu mewarisinya kelak—pernikahan antar Quincy tidaklah main-main. Bila sebuah keluarga Quincy berdarah murni tak punya pilihan lagi, mereka takkan segan-segan menjodohkan anak mereka dengan keponakan mereka, hanya untuk mempertahankan kesucian darah mereka. Luar biasa.
                Sungguh beruntung Masaki bertemu dengan Ishida Souken dan putra semata wayangnya, Ryuuken. Mereka menyambutnya dengan hangat. Souken memperlakukan Masaki seperti putrinya sendiri. Ryuuken pun selalu menjaganya bagaikan seorang kakak lelaki yang protektif terhadap adik perempuannya.
                Hanya sang nyonya rumah yang tidak mau bersusah payah menyembunyikan ketidaksukaannya terhadap Masaki. Baginya, Masaki hanyalah calon istri penerus keluarga Ishida yang harus memberikan keturunan dan menegakkan prinsip kuno Quincy pada generasi selanjutnya.
                Hujan di luar mulai reda. Masaki pun mengangkat wajahnya dan menghembuskan napas. Tiba-tiba, ia merasakan dua gelombang reiatsu masif saling bertabrakan dengan hebatnya, seakan-akan keduanya tenggelam dalam pertarungan panas. Indera Masaki mendeteksi salah satu pemilik reiatsu itu adalah Shinigami.
                Mendadak dilema menyelimuti hatinya. Gadis Kurosaki itu masih mengingat salah satu pesan ayahnya, ‘Jangan pernah kamu membenci Shinigami. Aku mengerti mengapa kaum kita ingin membalas dendam kematian leluhur kita. Tapi, balas dendam hanya akan menimbulkan akar balas dendam yang baru. Kamu harus menahannya.’
                Haruskah ia menyelamatkan Shinigami itu? Reiatsu Shinigami tak bernama ini terasa intens dan kuat, pasti dia selevel para kapten Soul Society. Tetapi lawannya juga tak kalah hebat. Hollow ini bukan berasal dari level ikan teri.
                Masaki menolehkan kepalanya mengarah ke jendela, mata hazel-nya terfokus pada dua makhluk halus di luar sana. Kebetulan hujan tidak terlalu deras sekarang. Dia bisa pergi keluar, mungkin menyelinap lewat jendela. Tidak bisa, Masaki menggelengkan kepalanya menepis jauh-jauh ide konyol itu. Para pelayan bisa tahu kalau nona besar mereka melarikan diri entah kemana. Pelayan rumah Ishida bukan pelayan biasa, mereka Quincy berdarah campuran.
                Separuh hati Masaki berteriak untuk membiarkan mereka bertarung. Tentu saja Masaki tahu mengapa. Keluarga Kurosaki dibantai kelompok Shinigami dalam  pembasmian  gelombang kedua, sebuah genosida yang bertujuan untuk memusnahkan lalat kecil tak berguna yang bernama Quincy yang masih tersisa. Seharusnya gadis itu duduk diam di kamarnya, sebagai sikap bahwa dirinya membela Quincy, membela keluarga Ishida. Namun, idealisme kecil di benaknya terus memberontak bahwa yang ayahnya pernah katakan itu benar. Bahwa hal itu mampu menjadi kunci perseteruan ini berakhir.
                Persetan dengan protokol, langsung saja Kurosaki Masaki membuka pintu dan berlari menuju dua makhluk halus itu bertarung. Semoga saja Shinigami itu baik-baik saja.
Dan semoga aku tidak terluka dalam aksi impulsifku ini. Kalau pun terluka, jangan sampai membuat Ryuu-chan cerewet seperti ibu-ibu.

Kindness


Kindness
a Kimi Ni Todoke © Shiina Karuho fan fiction
Warning: Canon, OOC, typo, nggak tepat sasaran
.
.
                Semua orang tahu, Yano Ayane itu cantik. Tipe kecantikan langka SMA Kitahiro. Dimana gadis-gadis mengenakan make-up untuk memikat hati kaum lelaki, Ayane tidak perlu bersusah payah melakukannya. Ya, ia memang memakai make-up, tapi menurut orang banyak tanpa aplikasi tambahan itu dia sudah cukup cantik. Bibir tebal dan iris coklat yang berhiaskan bulu mata tebal. Sungguh modal yang cukup untuk membuat lelaki kepincut.
                Mengenakan beberapa anting-anting di sudut telinga, merupakan ciri khas sang gadis bersurai oranye coklat. Ayane tahu, keputusan untuk mengenakan aksesori itu membuat banyak gunjingan di antara teman-teman di kelas, terutama dari kaum hawa. Di lingkungannya, gadis yang berdandan dengan anting-anting yang banyak selalu diberi label “gadis panggilan”.
Tapi, baginya itu bukan masalah. Menjadi anak alim bukanlah tujuan utamanya bersekolah di sini. Lagipula, suka tidak suka, gosip tentang dirinya yang sering berkencan dengan lelaki yang bertaut umur jauh darinya memang benar. Lalu, apa gunanya mengklarifikasi? Rumor tersebut bukanlah opini, itu adalah fakta. Baginya itu sudah cukup.
Ditambah, kapasitas otaknya juga berbanding lurus dengan kecantikannya. Cemerlang. Tidak istimewa, namun diperhitungkan. Sudah kebiasaan bagi gadis itu untuk berpikir rasional. Ia jarang melibatkan masalah pribadi mengganggu prestasi sekolahnya. Hal tersebut sudah cukup membuat guru tutup mata tentang reputasinya. Bukanlah rahasia bila sekolah menengah itu lebih mementingkan pendidikan siswanya daripada siswanya sendiri.
Yano Ayane juga bukan orang yang banyak bicara. Dia lebih suka mengamati teman-temannya. Bukan gadis-gadis yang berbisik penuh kagum sambil menatap pujaan hati sekolah dengan damba yang ia perhatikan. Tetapi kepada gadis yankee cerewet yang duduk di depannya atau gadis berambut hitam panjang yang selalu menyendiri di pojok kelas.
Perangainya tenang dan tidak ceroboh. Tidak pernah heboh sendiri atau mencari gara-gara. Mungkin hal-hal yang bagi orang lain menarik tentang dirinya adalah ketika seorang lelaki asing menjemputnya saat jam pulang sekolah, buat apa lagi kalau bukan kencan? Ayane bukanlah orang bodoh. Meski telinganya terhalangi oleh rambut gelombangnya yang tebal, ia tahu teman-temannya yang sirik bergerombol di belakangnya , membicarakan entah apa tentang dirinya sambil melempar tatapan iri dengki. Biarlah mereka begitu, toh mereka tak tahu apapun tentangnya.
Tidak ada yang tahu bahwa sesungguhnya Ayane Yano membenci dirinya sendiri.
Dia tak pernah bangga dengan kecantikannya. Ayane selalu merasa dirinya terlalu mencolok. Setiap pujian hanya ia tanggapi dengan senyum kaku, karena dalam hati ia menepis jauh-jauh kata-kata manis mereka. Semuanya tidak benar, menurutnya.
Ia mengenakan anting dan make-up untuk menambah rasa percaya dirinya. Bukan untuk bersolek atau apapun. Ia tak pernah percaya kalimat ‘cintailah dirimu sendiri’. Karena gadis itu merasa tak ada sisi dirinya yang patut dicintai.
Ayane menerima banyak lelaki dalam hidupnya bukan karena dia mencintai mereka. Dia hanya tersentuh dengan perhatian yang mereka berikan padanya. Tahu betul bahwa hubungan mereka hanya berdasarkan fisik semata. Tak ada degup kencang, perut yang serasa diisi kupu-kupu, pokoknya semua yang diharapkan pada novel romantis mendayu-dayu. Perasaan hangat yang menjalar pada seluruh tubuh ketika ia dan pacarnya hanyut dalam ciuman panas, tak pernah tumbuh dalam hatinya. Ia sadar hubungan ini hanya sesaat, tapi ia tak peduli. Masih ada satu miliar lelaki di luar sana. Buat apa ia peduli. Kalau putus, ya ganti saja.
Gadis itu selalu merasa bahwa ia adalah mainan para lelaki. Dipanggil bila butuh, dibuang bila bosan. Dan dia tidak sama sekali tidak keberatan. Karena ia tak pernah mencintai mereka.
Karena itu, Ayane sangat terkejut ketika Yoshida Chizuru membelanya. Saat para bocah ingusan melecehkannya, gadis berpostur tinggi itu mengumumkan bahwa dirinya jauh lebih seksi daripada yang diejek. Cara membela yang aneh memang. Lagipula, Yoshida memang sudah aneh dari sananya. Mengajak panco pada hari pertama masuk sekolah layaknya teman lama, padahal mereka baru saja bertemu.
Tapi pernyataan Sanada Ryu membuatnya tersentuh. Remaja pria tinggi itu memberitahukannya bahwa Yoshida selalu membicarakan dirinya sejak mereka duduk berdekatan. Ayane yang terbiasa mendengarkan komentar negatif tentang dirinya, merasa meleleh ketika Yoshida dikatakan baru pertama kali senang berteman dengan perempuan, terutama dirinya. Yoshida yang atletis dan tomboi memang tak pernah bergaul dengan teman perempuannya, karena menurut gadis berambut lurus itu perempuan itu rumit dan tidak sesimpel laki-laki.
Pertama kali …
Dan waktu terus berjalan. Kini Yoshida—atau Chizuru telah menjalin persahabatan dengannya. Mereka adalah makhluk pinggiran, meski dengan kelebihan masing-masing. Ke mana pun mereka selalu berdua, makan ramen berdua, bersaing lari maraton, atau menjadi relawan festival sekolah.
Mereka tak dapat terpisahkan. Dan Ayane mensyukuri itu.
Lalu, seorang gadis berambut hitam sepinggang yang konon bisa memanggil arwah, Kuronuma Sadako—eh, Sawako, mewarnai kehidupannya. Kepribadian Sawako yang polos dan tulus mungkin bagi sebagian orang menyebalkan. Tapi Chizuru dan Ayane senang menggali hubungan dengannya. Sawako bukanlah gadis pendendam, dia hanya pemalu. Tak dapat dipungkiri, ketiganya mulai dekat seperti sahabat sejati.
Belum pernah sepanjang hayatnya gadis bermarga Yano itu dibela atau merasakan gejolak untuk member perlindungan pada orang yang dekat dengannya. Ia mengira ia tak mampu mencintai orang lain. Tapi takdir berkata lain. Ia menemukan cinta dalam persahabatan. Dekat, lengket, tak terpisahkan.
Sahabat sejati …
Seorang sahabat adalah orang yang bisa menuliskan biografi hal-hal memalukan tentang dirimu. Seorang sahabat adalah orang yang akan terus bersamamu sepanjang hidup. Seorang sahabat akan tertawa, menangis, marah, dan bahagia bersamamu.
Dan cinta …
Akan selalu mengikuti.

               
               

Kamis, 02 Februari 2012

Bleach Cantabile Part 2

Oke, lanjut!

Di Amerika, Hisana ngabari ke Isshin dan Masaki lewat telpon bilang kalo dia bakal menikah dengan seorang pengusaha kaya di sana. Isshin dan Masaki yang kaget, hanya bisa memberi ucapan selamat dan permohonan maaf kalo nggak bakal bisa datang. Pas ditanya kenapa, Masaki berbahagia bilang kalo dia hamil.Hisana pun menyelamatinya dan berdoa semoga anak yang dia kandung bisa menjadi anak yang diharapkan mereka berdua. Sebelum ditutup, Masaki sempet tanya rencana nikahnya kayak apa, Hisana dengan simpel bilang pesta besar-besaran. Ternyata, telepon itu adalah percakapan pertama dan terakhir mereka.

Isshin dan Masaki berkali-kali mencoba menghubungi Hisana dan selalu gagal. Pasutri Kurosaki selalu berdoa untuk Hisana.

Sembilan tahun kemudian, Masaki meninggal dunia, ninggalin Isshin dan ketiga anaknya yang masih kecil, Ichigo, Yuzu dan Karin. Isshin sempat ninggalkan e-mail ke Hisana, meskipun setengah berharap dia tidak datang, melihat keluarganya dirudung duka seperti itu. Malam setelah Masaki dimakamkan/dikremasi, Isshin melihat Hisana berdiri di depan rumahnya, lalu mereka berpelukan. Sambil memeluk Isshin yang sangat sedih, depresi dan sangat merindukan istri tercintanya, Hisana memikirkan bagaimana Byakuya menghadapi kematiannya. Akhirnya, mereka berdua pun ikut menangis.

Setelah menidurkan ketiga anak Kurosaki, Hisana dan Isshin pun berbicara. Tentang macam-macam deh pokoknya. Karir mereka berdua. Kehidupan mereka. Hisana sempat memberi nasihat bijak kalo Isshin bakal merasa lelah selama setahun. Pas ditanya kenapa tahu, Hisana hanya tersenyum misterius. Lalu, Hisana memberi kabar mengejutkan bahwa dia sudah bercerai dari suaminya.Katanya, suaminya itu ketahuan selingkuh ama sekretarisnya dan Hisana tanpa basa-basi minta cerai. Isshin pun bertanya sekarang dia tinggal di mana. Hisana jawab dia tinggal di Prancis dan mengatakan kalo dia cuman punya waktu sehari di Jepang.

Subuh, Isshin mengantar Hisana ke bandara untuk mengucapkan selamat tinggal. Hisana juga mendoakan Isshin dan keluarganya supaya kuat dalam menghadapi cobaan. Memberi sedikit nasihat. Sebelum pergi ke pintu masuk, Isshin memanggilnya dan menyerahkan sebuah cincin. Hisana langsung bercucuran air mata. Cincin itu adalah cincin pernikahannya dengan Kuchiki Byakuya. Isshin pun mengaku bahwa cincin ini dia dapat dari Urahara yang dicuri dari mansion keluarga Kuchiki. Isshin pun bercerita panjang lebar tentang dirinya, Byakuya dan Rukia. Hisana yang mendengar itu semua tersenyum . Pengumuman kalo pesawat jurusan Tokyo-Paris akan segera berangkat.  Hisana pun berterimakasih pada Isshin

Sambil menatap Hisana yang pergi ke dalam bandara, Isshin mengenang sebuah percakapan saat mereka masih muda dan tersenyum mengenang bagaimana Hisana berkembang dari cewek pemurung menjadi wanita yang bersemangat dalam menjalani hidup. Isshin pun menatap langit dan membayangkan bagaiman jadinya kalo pangeran Kuchiki yang kayak es batu itu bertemu lagi dengan cinta lamanya yang sudah tidak dirudung rasa bersalah dan kesedihan yang melingkupi diri Hisana dalam tahun-tahunnya berada di Soul Society.

Isshin pun mengucapkan seoga beruntung, dan FIN!