Semua
orang tahu, Yano Ayane itu cantik. Tipe kecantikan langka SMA Kitahiro. Dimana
gadis-gadis mengenakan make-up untuk
memikat hati kaum lelaki, Ayane tidak perlu bersusah payah melakukannya. Ya, ia
memang memakai make-up, tapi menurut
orang banyak tanpa aplikasi tambahan itu dia sudah cukup cantik. Bibir tebal
dan iris coklat yang berhiaskan bulu mata tebal. Sungguh modal yang cukup untuk
membuat lelaki kepincut.
Mengenakan
beberapa anting-anting di sudut telinga, merupakan ciri khas sang gadis
bersurai oranye coklat. Ayane tahu, keputusan untuk mengenakan aksesori itu
membuat banyak gunjingan di antara teman-teman di kelas, terutama dari kaum hawa.
Di lingkungannya, gadis yang berdandan dengan anting-anting yang banyak selalu
diberi label “gadis panggilan”.
Tapi, baginya
itu bukan masalah. Menjadi anak alim bukanlah tujuan utamanya bersekolah di
sini. Lagipula, suka tidak suka, gosip tentang dirinya yang sering berkencan
dengan lelaki yang bertaut umur jauh darinya memang benar. Lalu, apa gunanya
mengklarifikasi? Rumor tersebut bukanlah opini, itu adalah fakta. Baginya itu
sudah cukup.
Ditambah,
kapasitas otaknya juga berbanding lurus dengan kecantikannya. Cemerlang. Tidak
istimewa, namun diperhitungkan. Sudah kebiasaan bagi gadis itu untuk berpikir
rasional. Ia jarang melibatkan masalah pribadi mengganggu prestasi sekolahnya.
Hal tersebut sudah cukup membuat guru tutup mata tentang reputasinya. Bukanlah
rahasia bila sekolah menengah itu lebih mementingkan pendidikan siswanya
daripada siswanya sendiri.
Yano Ayane juga
bukan orang yang banyak bicara. Dia lebih suka mengamati teman-temannya. Bukan
gadis-gadis yang berbisik penuh kagum sambil menatap pujaan hati sekolah dengan
damba yang ia perhatikan. Tetapi kepada gadis yankee cerewet yang duduk di depannya atau gadis berambut hitam
panjang yang selalu menyendiri di pojok kelas.
Perangainya
tenang dan tidak ceroboh. Tidak pernah heboh sendiri atau mencari gara-gara. Mungkin
hal-hal yang bagi orang lain menarik tentang dirinya adalah ketika seorang
lelaki asing menjemputnya saat jam pulang sekolah, buat apa lagi kalau bukan
kencan? Ayane bukanlah orang bodoh. Meski telinganya terhalangi oleh rambut gelombangnya
yang tebal, ia tahu teman-temannya yang sirik bergerombol di belakangnya ,
membicarakan entah apa tentang dirinya sambil melempar tatapan iri dengki.
Biarlah mereka begitu, toh mereka tak tahu apapun tentangnya.
Tidak ada yang
tahu bahwa sesungguhnya Ayane Yano membenci dirinya sendiri.
Dia tak pernah
bangga dengan kecantikannya. Ayane selalu merasa dirinya terlalu mencolok.
Setiap pujian hanya ia tanggapi dengan senyum kaku, karena dalam hati ia
menepis jauh-jauh kata-kata manis mereka. Semuanya tidak benar, menurutnya.
Ia mengenakan
anting dan make-up untuk menambah rasa percaya dirinya. Bukan untuk bersolek
atau apapun. Ia tak pernah percaya kalimat ‘cintailah dirimu sendiri’. Karena
gadis itu merasa tak ada sisi dirinya yang patut dicintai.
Ayane menerima
banyak lelaki dalam hidupnya bukan karena dia mencintai mereka. Dia hanya
tersentuh dengan perhatian yang mereka berikan padanya. Tahu betul bahwa
hubungan mereka hanya berdasarkan fisik semata. Tak ada degup kencang, perut yang
serasa diisi kupu-kupu, pokoknya semua yang diharapkan pada novel romantis
mendayu-dayu. Perasaan hangat yang menjalar pada seluruh tubuh ketika ia dan
pacarnya hanyut dalam ciuman panas, tak pernah tumbuh dalam hatinya. Ia sadar
hubungan ini hanya sesaat, tapi ia tak peduli. Masih ada satu miliar lelaki di
luar sana. Buat apa ia peduli. Kalau putus, ya ganti saja.
Gadis itu selalu
merasa bahwa ia adalah mainan para lelaki. Dipanggil bila butuh, dibuang bila
bosan. Dan dia tidak sama sekali tidak keberatan. Karena ia tak pernah
mencintai mereka.
Karena itu,
Ayane sangat terkejut ketika Yoshida Chizuru membelanya. Saat para bocah
ingusan melecehkannya, gadis berpostur tinggi itu mengumumkan bahwa dirinya
jauh lebih seksi daripada yang diejek. Cara membela yang aneh memang. Lagipula,
Yoshida memang sudah aneh dari sananya. Mengajak panco pada hari pertama masuk
sekolah layaknya teman lama, padahal mereka baru saja bertemu.
Tapi pernyataan
Sanada Ryu membuatnya tersentuh. Remaja pria tinggi itu memberitahukannya bahwa
Yoshida selalu membicarakan dirinya sejak mereka duduk berdekatan. Ayane yang
terbiasa mendengarkan komentar negatif tentang dirinya, merasa meleleh ketika
Yoshida dikatakan baru pertama kali senang berteman dengan perempuan, terutama
dirinya. Yoshida yang atletis dan tomboi memang tak pernah bergaul dengan teman
perempuannya, karena menurut gadis berambut lurus itu perempuan itu rumit dan
tidak sesimpel laki-laki.
Pertama kali …
Dan waktu terus
berjalan. Kini Yoshida—atau Chizuru telah menjalin persahabatan dengannya.
Mereka adalah makhluk pinggiran, meski dengan kelebihan masing-masing. Ke mana
pun mereka selalu berdua, makan ramen berdua, bersaing lari maraton, atau
menjadi relawan festival sekolah.
Mereka tak dapat
terpisahkan. Dan Ayane mensyukuri itu.
Lalu, seorang
gadis berambut hitam sepinggang yang konon bisa memanggil arwah, Kuronuma
Sadako—eh, Sawako, mewarnai kehidupannya. Kepribadian Sawako yang polos dan
tulus mungkin bagi sebagian orang menyebalkan. Tapi Chizuru dan Ayane senang
menggali hubungan dengannya. Sawako bukanlah gadis pendendam, dia hanya pemalu.
Tak dapat dipungkiri, ketiganya mulai dekat seperti sahabat sejati.
Belum pernah
sepanjang hayatnya gadis bermarga Yano itu dibela atau merasakan gejolak untuk
member perlindungan pada orang yang dekat dengannya. Ia mengira ia tak mampu
mencintai orang lain. Tapi takdir berkata lain. Ia menemukan cinta dalam
persahabatan. Dekat, lengket, tak terpisahkan.
Sahabat sejati …
Seorang sahabat
adalah orang yang bisa menuliskan biografi hal-hal memalukan tentang dirimu.
Seorang sahabat adalah orang yang akan terus bersamamu sepanjang hidup. Seorang
sahabat akan tertawa, menangis, marah, dan bahagia bersamamu.
Tiga tahun yang lalu, aku memilih SMP
N 4 Pakem sebagai tempatku menimba ilmu setelah dinyatakan lulus dari jenjang
pendidikan sebelumnya. Ketika itu, perasaan khawatir menyelimutiku. SMP 4 Pakem
sebenarnya bukanlah sekolah pertama yang ingin aku tuju. Namun setelah
pertimbangan banyak hal, serta keinginan untuk mencari suasana baru, akhirnya
kuputuskan bersekolah di sini. Setelah melewati berbagai tes masuk dan berujung
dengan penerimaanku di SMP 4 Pakem, rasa khawatir itu berganti menjadi senang
dan lega. Aku pun mulai menantikan hari-hariku kelak di sekolahku ini.
Pindah-pindah
Kelas itu bagaikan culture shock
Saat pertama
kali aku mengikuti upacara pembukaan tahun ajaran baru 2010/2011, hatiku
terbang karena euforia. Akhirnya, kutanggalkan seragam putih-merah di lemari
dan kukenakan seragam putih-biru! Kupandangi sekeliling lapangan, mataku
memandangi barisan kakak kelas yang berdiri menjulang di pojok lapangan.
Setelah itu kualihkan perhatianku pada proses upacara yang sedang berlangsung.
Tata caranya membuatku takjub. Sungguh lebih formal dibandingkan dengan upacara
di SD-ku dulu.
Waktu
pun berlalu dan aku mulai menjalani hari-hariku sebagai siswa SMP 4 Pakem.
Banyak sekali hal baru mengenai sekolah yang membutuhkan penyesuaian cukup
lama. Salah satunya mengenai sistem moving
class.
Aku mengenal sistem ini dari
film Hollywood yang berlatar tempat sekolah. Melihat gerombolan siswa yang
berpindah kelas setiap bel pergantian jam pelajaran membuatku kagum. Pasti
menyenangkan bisa ganti suasana setiap ganti pelajaran. Tidak terjebak dalam
ruangan kelas yang sama sepanjang tahun.
Pada
awalnya, moving class memang
mengasyikkan. Tapi lama-lama aku mulai kesal. Harus kuakui, aku ini orangnya
repotan. Jika sudah duduk di bangku kelas, aku akan mengeluarkan nyaris seluruh
barang-barangku yang ada di tas dan kujejalkan semuanya di laci meja, kecuali
alat tulis. Mungkin ini bawaan sejak SD yang memang tak mengenal sistem
pindah-pindah kelas. Ketika bel berbunyi dan kelasku harus pindah kelas, dengan
asal kumasukkan barang-barangku. Itu pun tidak dengan kecepatan kilat. Sembari
menjejalkan buku paket dan buku tulis, teman-temanku yang lain sudah berlari
kecil pamitan dengan guru dan melesat ke kelas selanjutnya. Hatiku langsung
dongkol karena aku tidak akan dapat posisi bangku strategis.
Butuh
waktu lama bagiku untuk mengikuti ritme pindah kelas ini. Untuk mengatasinya,
aku berstrategi untuk tidak mengeluarkan banyak barang dari tas dan
bersiap-siap menjelang saklar bel dipencet.
Tetapi
sistem ini juga menyimpan manfaat. Dengan seringnya berpindah-pindah, kelasku
tentu sering berpas-pasan dengan kelas lain. Entah di koridor sekolah,saling berebut siapa yang masuk atau keluar
duluan di pintu kelas, dan bertabrakan karena tidak konsentrasi jalannya.
Semuanya memudahkanku untuk mengenal para siswa selain di kelasku. Ketika SD,
aku sedikit menyesal karena meskipun sudah menghabiskan enam tahun di sekolah,
masih saja segelintir siswa yang aku tak tahu namanya. Tapi tidak dengan SMP,
aku bisa mengenal semua wajah dan nama teman-teman dari kelas lain karena
frekuensi tatap muka yang lebih dari jam istirahat belaka.
40 Bisa!!
Kesan kedua
selain menganggap betapa menjulangnya para kakak kelas saking tinggi badannya,
adalah kesungguhan mereka bila mengenai perihal pelajaran. Entah mengapa,
senakal apapun mereka aura serius mengikuti mereka ke mana pun mereka pergi.
Suatu hari, ketika aku dan sekelas melihat daftar nilai kakak kelas di salah
satu proyektor sekolah, aku hanya bisa bengong. Ya Allah, nilainya
kinclong-kinclong! Aku pun mulai bertanya-tanya, rahasianya apa ya?
Kurasa
boleh-boleh saja bila aku membandingkan proses pembelajaran SMP 4 Pakem yang
rada mirip dengan kuliah. Segalanya harus belajar mandiri. Tidak seperti SD
yang apa-apa dipandu oleh guru, di sini semua siswa harus berinisiatif mencari
jalan keluar bila ingin survive alias
mendapat nilai bagus. Bila di rumah tidak pernah belajar, jangan heran bila
ulangan akan sering ikut remidi atau saat UTS akan mendapat nilai di bawah 8.
Kesadaran diri dibangun pada diri siswa dan motivasi terus dipacu oleh guru.
Pepatah malu bertanya sesat di jalan sangat berlaku di sini. Bila tidak aktif
bertanya ke sesama teman atau guru, bisa-bisa sampai ujian akhir semester akan
ada materi yang tidak dikuasai. Apalagi frekuensi ulangan harian sering
dilakukan setiap dua minggu sekali, jadi belajarnya harus teratur supaya nilai
sempurna hanya menjadi angan-angan lagi.
Untuk
urusan tugas, siswa harus pandai-pandai membagi waktu. Setiap minggu, nyaris
semua mata pelajaran memberikan tugas pada siswa. Bila tidak pintar manajemen
waktu, siswa bisa stress dan tugas-tugas akan berakhir molor atau malah
terbengkalai. Padahal tugas itulah kunci utama nilai rapor kelak.
Dengan
banyaknya tugas yang diberikan, memang sebaiknya menyimpan buku catatan khusus
untuk mencatat tiap tugas beserta tenggat waktunya. Serta memacu diri untuk
disiplin mengerjakan tugas sesegera mungkin sebelum pertarungan batin antara ‘kerjakan
sekarang’ atau ‘nanti saja, toh masih ada banyak waktu’ terjadi dan dimenangkan
oleh pernyataan yang terakhir hanya gara-gara malas.
Ketika
siswa menginjak kelas 9, dimulai proses menggodok kami-kami ini supaya bisa
meraih nilai UN yang terbaik. Slogan ’40 bisa!’ terpampang di setiap sudut
kertas soal yang diberikan dan selalu diingatkan oleh para guru yang
membimbing. Jam ke-0 pagi dan siang digelar. Tes diagnostik serta simulasi UN
diselenggarakan setiap bulan untuk membangun dan menjaga sikap siaga siswa
untuk menghadapi UN. Suasana ‘tiada hari tanpa makan soal’ menjadi pemandangan
sehari-hari di kelas. Pada akhirnya, usaha itu berbuah manis. SMP 4 Pakem
meraih peringkat pertama se-provinsi DIY. Kami, Pradnya Siwi 2013 kembali
menorehkan prestasi sebagai jawara UN. Sudah manis buahnya, besar pula.
3 Idiots dan Stand
Up Comedy
Terkadang
bersekolah di SMP 4 Pakem terasa seperti rumah kedua bagiku. Guru dan
karyawannya benar-benar begitu bersahabat dan peduli dengan siswanya. Guru-guru
begitu sabar meladeni kami yang memang rada bandel ini. Bahkan kami sering
membuat beberapa guru jengkel karena ulah kami dan berakhir diceramahi panjang
lebar. Semua itu tentu didasari niat untuk kebaikan kami semua.
Selain
itu, guru-guru juga bisa menjadi sahabat yang tak terduga. Diajak nonton film 3 Idiots, main voli bareng, pulang
sekolah diantar naik motor, ditemani kala belum dijemput ortu, memberi
referensi buku fiksi terbaru… ah pokoknya banyak momen yang terjadi antara guru
dan kami.
Para
karyawan juga tak kalah bersahabat dengan kami. Bermain gitar dan bernyanyi
bersama, menonton video Stand Up Comedy
Indonesia, mengizinkan kami bermain dengan anak penjaga sekolah… wah
pokoknya daftarnya panjang deh.
Apalagi
kepala sekolah kami, Bu Woro. Wah, beliau begitu sayang pada kami. Jika aku
berpapasan dan bersalaman dengan beliau, Bu Woro dengan penuh perhatian akan
menanyakan keadaanku. Begitu pula beliau dengan siswa yang lain. Meski aku tak
sering bertemu Bu Woro seperti aku bertemu dengan guru-guru yang lain, beliau
selalu up to date mengenai perkembangan kami. Sungguh kepala sekolah yang
mengagumkan.
Dengan
keramahan dan perhatian sekolah yang begitu besar pada kami, aku yakin kesan
kuat ini tak akan lekang dimakan waktu.
Keep It Up!
Sejujurnya,
SMP 4 Pakem itu sudah sempurna. Sayang sekali aku hanya menghabiskan waktu tiga
tahun di sini. Padahal kalau bisa aku ingin melihat kolam renang di belakang
area sekolah. Aku ingin menikmati lebih banyak waktu di sini. Tapi kelulusan
sudah di depan mata. Saatnya untuk berpisah dan melanjutkan hidup untuk
menggapai cita-cita yang diinginkan.
Jadi,
SMP-ku yang tercinta, pertahankan apa yang menjadi kebanggaanmu dan selalu
tingkatkan kualitasmu agar namamu selalu harum dan menjadi SMP wahid se-DIY. Sebagai
siswa dan nanti almamater, aku bangga menjadi bagian besar darimu. Terima kasih
sudah menemani perjalanan hidupku ya Pradnya Siwi.
Sudah
tiga tahun berlalu sejak kuputuskan bersekolah di SMP 4 Pakem. Dan itu memang
pilihan yang tepat.
Disclaimer (c) Mauri Felissa Yuliani. Jangan memublikasikan cerita ini ke website lain tanpa seizin penulis. Terima kasih.
Malam minggu di Yogyakarta identik
dengan kemacetan di seluruh pusat kota. Jalanan di sekitar Malioboro dipenuhi
lautan kendaraan. Matahari mulai ditelan sang malam. Lampu-lampu di sudut kota
mewarnai penjuru jantung Kota Yogyakarta, bagaikan kaleidoskop warna yang
berputar-putar.
Sebuah
tangan melambai di pinggir Jalan Malioboro, meminta tumpangan pada sebuah bis
Kopata. Bis itu berhenti, memberi isyarat kepada calon penumpang itu untuk
segera naik. Penumpang itu bergegas mendaki tangga bis, tahu diri bahwa jalanan
yang padat bukan tempat yang tepat untuk kendaraan berhenti. Seorang kondektur
berwajah dekil memberi jalan supaya penumpang itu bisa duduk. Sang penumpang
mengamati suasana bis, lengang.
Beda banget, pikir si penumpang alias
Bagas. Di luar bis sudah macet total. Di dalam bis sangat sepi. Orang Jogja
memang lebih suka naik kendaraan pribadi. Ichigo tidak perlu bersusah payah
mencari tempat duduk, karena dia adalah satu-satunya penumpang di bis itu. Ia
pun memilih duduk di deret tengah, memojokkan diri di jendela selatan bis.
Kepala
Bagas menempel di kaca jendela, bibirnya mengeluarkan desah lelah. Matanya yang
sayu menatap kosong keramaian di luar, yang baginya masih belum mampu
memadamkan rasa kecewanya di hatinya.
Sudah
tak terhitung lagi berapa kali pria itu melamar pekerjaan dan berakhir ditolak
terus menerus. Stofmap kuning pucat yang ia bawa berisikan dokumen-dokumen
penting, yang telah berkali-kali dikembalikan karena tidak memenuhi syarat
perusahaan Ichigo datangi. Kemeja kotak-kotak yang ia kenakan telah luntur oleh
waktu, seluntur semangatnya kini. Padahal baju itu pemberian ibunya, baju yang
dahulu diberikan sewaktu pria itu akan merantau ke Yogyakarta.
“Nak,” pikiran Bagas melayang pada saat
terakhir ia akan berpisah dari ibunya, “bawa
baju ini. Kemeja ini milik almarhum bapakmu. Beliau berpesan agar kemeja ini
diberikan padamu dan dikenakan pada hari-hari istimewa.”
Bagas
menutup matanya, batinnya menjerit pedih saat ia mengenang wajah lembut ibunya
yang berlinang air mata. Permintaan itu memang sederhana, tapi beban yang
menaunginya amat berat. Kemeja itu adalah lambang doa dari kedua orang tuanya.
Dan Bagas merasa telah gagal dalam mengabulkan doa mereka. Setengah dari
dirinya ingin segera kembali ke kamar kosnya, mengepak barang, dan pulang ke
kampung halaman. Namun, setengah dirinya yang lain tahu tidak akan sanggup
menanggung malu pulang dengan tangan kosong, bagaikan seorang prajurit yang
kalah telak di peperangan.
Ketika
Bagas sibuk sendiri dengan dunianya, seorang gadis pengamen naik ke dalam bis,
menghampirinya.
“Selamat
malam, Mas,” sapa si gadis pengamen. Bagas membuka matanya dan melirik ke arah
gadis itu, mengangguk pelan. Secara penampilan, gadis itu terlihat sangat
lusuh. Rambut hitamnya yang sebahu terlihat berantakan. Kaos putihnya sudah
bisa dijadikan kain pel, begitu juga dengan celana pendek merah muda yang ia
kenakan. Bila dibandingkan dengan Ichigo, gadis itu terlihat seperti gelandangan.
Namun, ketika mata Bagas bertemu dengan wajah sang gadis, ia hanya bisa
terpana.
Mata
besarnya yang berwarna violet terlihat bercahaya. Sudut bibirnya melengkung
membentuk senyum cerah yang sanggup menghidupkan sekelilingnya. Meski air
mukanya terlihat lelah, aura semangat masih terpancar dari dirinya. Secara
tidak langsung, Ichigo terpengaruh olehnya.
Gadis
itu pun melanjutkan, “Saya akan mempersembahkan sebuah lagu. Mohon berkenan
untuk mendengarkan.” Gadis manis itu mulai memetik gitar yang sedari tadi
menggantung di bahu kecilnya. Dalam sekejap, seluruh ruangan bis tenggelam
dalam sebuah alunan lagu.
“Jenuh aku mendengar. Manisnya kata cinta.
Lebih baik sendiri.”
Ah, lagu itu … Bagas memejamkan
matanya, membiarkan dirinya hanyut dalam permainan akustik si gadis pengamen.
“Bukannya sekali. Seringku mencoba. Namun
kugagal lagi.”
Siapa gerangan gadis ini? Malaikat
yang Tuhan kirim sebagai penyembuh hatinya yang lara? Bagas mengintip sedikit
dari pelupuk matanya, mengamati gadis itu bernyanyi. Kualitas suaranya sangat,
sangat, sangat, bagus. Pria itu mengakui, suara gadis ini sungguh bak malaikat.
Dia pun menutup matanya lagi.
“Mungkin nasib ini. Suratan tanganku. Harus
tabah menjalani.”
“Jauh sudah melangkah. Menyusuri hidupku.
Yang penuh tanda tanya.”
Dalam
hati, Bagas mengintrospeksi dirinya sendiri. Mengingat-ingat dulu alasan
mengapa dirinya pergi ke kota pelajar. Sejak
ayahnya meninggal, kondisi perekonomian keluarganya carut marut. Ibunya hanya
seorang ibu rumah tangga. Dengan mengandalkan uang warisan sang ayah yang tak
seberapa, jelas tidak mungkin sanggup dipakai untuk menghidupi semuanya,
apalagi Bagas mempunyai dua adik perempuan. Berbekal ijazah SMA, sebagai anak
sulung Ichigo bertekad untuk mengubah kehidupan keluarganya ke arah yang lebih
baik.
“Kadang hatiku bimbang. Menentukan sikapku.
Menentukan sikapku. Tiada tempat mengadu.”
“Hanya iman di dada.
Yang membuatku mampu. Selalu tabah menjalani.”
Bagas tahu betul rasa sepi yang
menggelayut dan rindu dengan keluarganya. Yang ia miliki hanyalah Tuhan semata
…
“Malam-malam aku sendiri. Tanpa cintamu lagi,
oh …ho …oh. Hanya satu keyakinanku. Bintang kan bersinar. Menerpa hidupku.
Bahagia kan datang, oh … oh.”
Pria itu membuka matanya saat sang
gadis menutup lagu itu. Bagas merogoh saku kanannya, mengambil dompet, dan mengeluarkan
selembar uang sepuluh ribu.
“Ini,”
ucap Bagas sambil memberikan uang itu pada si gadis, “ucapan terima kasihku,
karena telah disuguhi lagu indah dari penyanyi hebat sepertimu.”
Wajah si gadis bersemu merah,
“Te-te-terima kasih.” Gadis itu mengambil uang itu dari tangan Ichigo, lalu
membungkuk memberi hormat padanya. Seakan-akan sudah diatur, bis itu berhenti
di persimpangan, dan gadis itu turun. Mata Bagas terus mengejar sosok gadis itu
yang akhirnya lenyap ditelan kegelapan.
Mungkin
ini memang rencana Tuhan agar Bagas terus bersemangat dan pantang menyerah.
Bagas menyadari kesamaan dirinya dengan gadis itu. Mereka sama-sama berjuang.
Pria itu merasa malu karena dia cepat sekali menyerah, sedangkan gadis tadi
terus menebar senyum cerah penuh semangat, dari dirinya maupun lagu yang ia
nyanyikan.
Bagas
menatap bintang yang bersinar di langit, dalam hatinya berterima kasih padaNya
dan gadis pengamen itu.
Perjalanan
memang masih panjang, tapi Bagas merasa ringan karena optimisme dan harapan
esok hari.
Disclaimer (c) Mauri Felissa Yuliani. Jangan menerbitkan ulang cerita ini di website lain tanpa seizin penulis. Terima kasih.
Aku sudah bilang di postku yang dulu-dulu kalo aku jatuh cinta ama pasangan di Bleach yang paling tragis. Kuchiki Byakuya dan Kuchiki Hisana.
Perlu aku kasih penjelasan?
Ya, banyak banget argumen-argumen di internet yang meragukan kekuatan cinta dari pasangan ini, terutama dari Hisana. Para penggemar Bleach pasti tahu peran Hisana di manga Bleach, sebagai kakak perempuan Kuchiki Rukia. Ia meninggalkan Rukia yang masih bayi di Rukongai karena gadis itu tidak sanggup menghidupi mereka berdua. Tapi, setelah ia meninggalkan adiknya, Hisana langsung menyesalinya dalam-dalam, yang akhirnya membuat Hisana bertekad mencari adik perempuannya yang ia tinggalkan. Lalu, Hisana bertemu Byakuya, yang nantinya mereka akan menikah. Kata Byakuya, selama masa-masa pernikahan mereka, Hisana tidak pernah berhenti mencari Rukia, yang akhirnya membuat tubuhnya lemah dan terbaring sakit. Sebelum meninggal, Hisana meminta Byakuya untuk menemukan adiknya perempuannya yang ia sayangi. Selain itu, Hisana juga membuat suaminya berjanji bahwa Byakuya tidak akan memberitahukan kerabat Rukia yang sesungguhnya. Menurut Hisana, dia telah menerlantarkan adiknya, sehingga ia merasa tidak pantas dipanggil "kakak" oleh Rukia. Merasa sangat bersalah karena perbuatannya itu, pada saat terakhirnya, ia ingin Rukia menganggap Byakuya sebagai kakaknya, dan ingin suaminya melindungi adiknya tanpa syarat apapun. Terakhir (ini yg bkin aku makin jatuh cinta sama pasangan ini), Hisana meminta maaf karena pada saat terakhirnya ia masih mengandalkan Byakuya. Ia minta maaf karena tidak bisa membalas cinta yang telah Byakuya berikan padanya. Hisana mengatakan, sepanjang 5 tahun masa pernikahan mereka, ia merasa itu semua bagaikan mimpi. Dengan nama suaminya sebagai kata terakhirnya dengan air mata berlinang, Hisana menghembuskan nafas yang terakhir. Byakuya, hanya terlihat menundukkan kepalanya, seperti orang menangis.
Ini semua hanyalah spoiler dari Bleach manga chapter 176, Confession In The Twilight. Mau penjelasan subyektif?
Aku punya perasaan, kalau Hisana adalah wanita yang emosional. Ia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan orang-orang yang ia sayangi. Terbukti, bahwa saat ia dan Rukia meninggal dan datang ke Soul Society, tidak seperti penghuni SS yang terpisah dari keluarganya saat tiba di dunia itu, mereka berdua datang bersama-sama tidak terpisah satu sama lain. Ini berarti, hubungan persaudaraan Hisana dengan Rukia sangat kuat bahkan takdir kematian mereka di Bumi masih belum cukup untuk memisahkan mereka. Ketika ia meninggalkan Rukia, aku merasa bahwa Hisana sendiri sebetulnya sangat tidak ingin meninggalkan Rukia, namun karena dalam keadaan "tidak dapat menghidupi mereka berdua" (aku selalu mengganggap kalimat ini agak ambigu, Kubo-sensei, sebaiknya kau jelaskan lebih rinci lagi!), ia terpaksa meninggalkan adiknya. Lalu, Hisana menyesali perbuatannya, dan mencari adiknya hari-demi hari hingga akhir hayatnya. Oke, aku awalnya speechless saat Hisana menerlantarkan Rukia. Namun, rasa bersalah dan tekad mendorongnya untuk mencari adiknya lagi, sudah lebih cukup bagiku untuk tahu bahwa ia sangat mencintai Rukia.
Lalu, aku juga merasa bahwa ia juga sangat mencintai Byakuya. Menurutku, alasan mengapa Hisana jatuh sakit pada masa pernikahan mereka berdua, lebih disebabkan karena rasa bersalah yang dalam dan keinginan kuat untuk tidak membebani pikiran suaminya, yang terbawa sampai fisik. Hisana tahu, ia seorang wanita biasa datang dari Distrik 78, Inuzuri, Rukongai. Byakuya adalah seorang shinigami yang datang dari keluarga Kuchiki, yang masuk dalam 4 keluarga bangsawan yang paling dihormati se-Soul Society. Plus, Byakuya pada saat itu adalah pewaris kepala keluarga Kuchiki yang ke-28. Tradisi masih dipegang tegus oleh keluarga Kuchiki. Jelas sekali, pernikahan Byakuya dengan Hisana pasti menjadi skandal luar biasa dalam keluarga yang menggangap status lebih penting dari apapun. Byakuya, yang telah terdidik sejak kecil untuk mengikuti peraturan apapun yang terjadi, melanggar peraturan untuk menjadikan Hisana sebagai istrinya. Byakuya sendiri sebenarnya sudah sibuk sekali dengan pekerjaannya di Gotei 13, sedang dalam persiapan menjadi komandan, ditambah perannya sebagai penerus keluarga, sudah bikin itu cowok stres. Hisana, pasti sadar akan hal ini dan memutuskan untuk tidak membebani Byakuya dengan masalahnya sendiri. Aku yakin sekali, tekanan dari keluarga yang menolaknya, dan dosanya menyebabkan Hisana jatuh sakit. Ia sangat mencintai Byakuya, sampai level ia tidak ingin menambah beban suaminya. Aku juga yakin, sifatnya ini, empatik dalam yang disertai oleh cinta yang kuat, membuat hati Kuchiki Byakuya luluh dan meminang Hisana sebagai pendamping hidupnya. Ucapan terakhir Hisana tentang bagaimana ia tidak bisa membalas cintanya, aku pikirkan karena Hisana mencurahkan segalanya untuk menemukan Rukia, hingga ia tidak memiliki waktu dengan Byakuya, tidak memiliki kesempatan untuk menunjukkan cintanya pada suaminya, bukan karena ia tidak mencintai Bya-kun.
Kuchiki Byakuya, kelihatannya sih angkuh, sombong, serius, dan anti-sosial. Tapi, ini semua aku yakin karena tekanan keluarga saja. Aku 180 % yakin, sesungguhnya dia orang yang sangat penyayang dengan orang-orang yang dekat dengannya. Hidup di lingkungan bangsawan yang melihat dirinya sebagai pewaris, bukan sebagai orang , membuat dia sedikit selektif memilih orang-orang yang dekat dengannya. Ditambah, sepertinya Byakuya orang yang susah nyaman berada dengan orang lain, apalagi orang lain nyaman dengannya. Sudah jelas karena statusnya itu dan sifatnya yang cuek. Nah, mungkin aja Byakuya merasa nyaman dengan Hisana. Hisana, tidak melihat Kuchiki Byakuya sebagai pewaris kluarga Kuchiki atau calon Komandan Divisi 6. Yang dia lihat hanyalah Byakuya. Mungkin lagi, perasaan diperlakukan seperti orang biasalah yang Byakuya inginkan. Mungkin. Tapi, sudah jadi rahasia umum bahwa Byakuya pandai menilai orang. Cowok itu yakin, meskipun Hisana telah melakukan sesuatu yang mungkin tak termaafkan, Hisana tetaplah cewek yang baik banget.
Sayang sekali, kita kekurangan info dari Kubo-sensei tentang pasangan ini (bikin para fans ngasih penjelasan ngasal ttg ini couple, yang seringnya bikin kpalaku mendidih). Sialan kau Kubo, mentang-mentang critamu gak ada romancenya, bukan berarti pasangan yg udah jelas statusnya kek ortunya Ichigo , Shiba Kaien dan Miyako, dan ByaHisa kamu bikin super tragis. Wong kamu gak pernah ngasih kejelasan tentang IchiRuki, GinRan, HitsuHina, yang mnurutku udah ada "sesuatu" diantara mreka, tapi KAU tetap mempermainkan fansmu. Aku benci fakta ini sekaligus membuatku semakin tertarik dengan manga-mu. Ironis beut.
Hisana, selain emosional, menurutku juga baik, anggun, jujur, cantik, cerdas, dan memiliki tekad yang kuat, diiringi dengan sifat keras kepala, mirip dengan adiknya namun lebih "feminin" . Plus, empatik dan dewasa, melebihi wanita pada umurnya.
Aku selalu merasa tidak setuju kalau Hisana itu secara fisik lemah. Kalu aku tidak salah baca, Hisana hanya sakit ketika ia sudah menikah dengan Byakuya. Padalah, Hisana sudah mencari Rukia lama sebelum ia bertemu calon suaminya. Hidup di salah satu distrik terparah di Rukongai secara logika seharusnya membuat Hisana tahu bagaimana menjaga dirinya sendiri. Apalagi, sebagai kakak perempuan dari Wakil Komandan Divisi 13 di Gotei 13, Hisana seharusnya memiliki kekuatan spiritual, membuat dirinya mampu menjadi seorang Shinigami.
Mungkin, sifat Hisana yang paling kuat adalah sifatnya yang keras kepala. Ia bersiteguh untuk membawa dosanya sendiri, tidak ingin merepotkan orang lain. Mungkin itulah, yang membuat sosok Hisana terkadang seperti "dia dekat tapi dia jauh dari genggamanku". Dia juga memaksakan dirinya sendiri untuk terus mencari Rukia, tanpa peduli dengan dirinya sendiri. Dia juga membenci dirinya sendiri. Sampai pada akhir hayatnya, ia benci dirinya sendiri sampai level ia tidak ingin Rukia tahu bahwa dirinya memiliki seorang kakak perempuan. Nah, disinilah kesamaan Rukia dan Hisana: terlalu banyak mikir. Hisana mungkin punya krisis kepercayaan, seperti Rukia. Aku kagum dengan tekad Hisana, tapi sepertinya dia harus belajar untuk membiarkan kebahagiaan datang meskipun sedikit, dan tidak terus-terusan berkubang dalam jurang rasa bersalah. Kasihan orang-orang terdekatnya, mengira bahwa dirinya egois, tapi padahal bukan begitu.
Btw, aku nemu dua lagu super bagus. Cocok dengan POV Byakuya dan Hisana masing2.
Byakuya's POV
One More Time, One More Chance - Yamazaki Masayoshi (5 Centimeters Per Second OST)
Terjemahan B.Inggris (sumber: animelyrics.com)
If I lose any more than this, will my heart be forgiven
How much pain before I can see you again
One more time, please don't change the season
One more time to the time when we fool around
When our path cross each other, I am always the first to turn
Making me indulge more in my selfish way
One more chance tripped by memories
One more chance we cannot choose our next place
I am always searching somewhere for you
Opposite of the house, the other side of the alley's window
Even though I know you won't be here
If my wish is to be granted, please bring me to you right now
Betting and embracing everything
To show you there's nothing else I can do
Anybody should be fine if it was just to ease loneliness
Because the stars in the night sky seems like falling, I cant lie to myself
One more time, please dont' change the season
One more time to the time when we fool around I am always searching somewhere for you
Even at the intersection and dream
Even though I know you won't be here
If miracle was to happen, I want to show it to you right now
A new morning, myself
and the "I love you" which I couldn't say
Summer's memory is revolving
The sudden disappearance of heart beat I am always searching somewhere for you
At dawn's town, At Sakuragi street
Even though I know you won't come here
If my wish is to be granted, please bring me to you right now
Betting and embracing everything
To show you there's nothing else I can do
I am always searching somewhere for your fragment
At the destination's shop, At the corner of the newspaper
Even though I know you won't be there
If miracle was to happen, I want to show it to you right now
A new morning, myself
And the "I love you" which I couldn't say
I always end up looking somewhere for your smile
At the railway crossing of the fast pace town
Even though I know you won't be here
If life can be repeated, I'll go to you many times over
There's nothing else that I want
Nothing else is more important than you
Hisana's POV (bayangkan aja Hisana reinkarnasi ke dunia manusia dan mengingat semua yang dia alami di SS).
Sakura - Ikimonogakari
Terjemahan B.Inggris (sumber: jpop-asia.com)
The cherry blossoms fell, fluttering down
Embracing every bit of my fluttering love
Even now, I’m dreaming the dream I prayed for with you that spring
The cherry blossoms scatter
From the train I could see
The traces of one day
The big bridge we crossed together
Graduation time came
And you left town
On the colourful riverbank, I search for that day
We went our separate ways
And brought our spring to an end
My future is in full bloom
But it fills me with panic
This year, once again, the cherry blossoms are reflected
In the window of the Odakyuu train
In my heart
I hear your voice
The cherry blossoms fell, fluttering down
Embracing every bit of my fluttering love
Even now, I’m dreaming the dream I prayed for with you that spring
The cherry blossoms scatter
The start of my letter to you
Says “I’m doing OK”
You’ll see through that little lie, won’t you?
Even the town going past
Is taking in the spring
The flowers are opening their buds again this year
I’ll get through these days without you
And I, too, will grow up
Will I forget everything?
“I really loved you”
I hold out my hands to the cherry blossoms
Now my love is wrapped in the spring
The cherry blossoms fell, fluttering down
Embracing every bit of my fluttering love
Even now, the strong words you gave me
Remain in my heart; the cherry blossoms dance
The cherry blossoms fell, fluttering down
Embracing every bit of my fluttering love
Those days I dreamed of on that distant spring day
Disappear into the sky
The cherry blossoms fall, fluttering down
And I walk out into the spring
I clutch the dream I promised you that spring
Tightly to my chest; the cherry blossoms dance
Menurutku dua lagu ini paling cocok untuk mengimpresentasikan perasaan ByaHisa satu sama lain. Enjoy!
PS: sudah baca Bleach chap 502?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
APA-APAAN KAMU KUBO-SENSEI!!!!!!!!!!!!!!!
(yang blum baca silahkan cari di internet. SUPER TRAGIS!! TIDAKKKKKKKK!!!!!)
Hayooo, yang lagi nonton Indonesian Idol 2012... siapa yang kalian dukung: Dion, Yoda, Sean, ato Regina? Hehehehehehehehe... aku mah Sean aja, indonesian rising star ,hohoho. Tapi, kali ini aku gak bakal bahas mereka berempat. Aku pengen bahas tentang mantan kontestan Indo Idol 2012, Maria Rosalia alias Rosa Idol!!
Sayang banget dia keeliminasi, padahal dia nyanyinya bagus. Oke, awalnya dia gak terlalu bagus, tapi salah satu performance terakhirnya membuatku yakin bahwa diluar Idol-pun dia akan sukses, yaitu pas dia bawain mahakaryanya Ahmad Dhani aka. lagu Pupus by Once. Aku emang seneng banget ama lagu ini, sepanjang UTS di sekolah lagu ini aku lantunin terus ampe dua deret meja di depanku (aku duduk di blakang, btw) pada noleh dan adek kelasku tanya, "Mbak itu lagu apa, kok bagus?" Nah, pas denger si Rosa nyanyi lagu ini, aku pun sampai pada satu kesimpulan: kalo ada cewek bakal nyanyi lagu Pupus, aku bakal pilih Rosa sebagai penyanyinya. M.A.N.T.A.P.
Dimanapun engkau berada, Maria Rosalia, Tuhan bersamamu, dan sukses selalu!!!!!!
Aku nemu video ini pas iseng nyari tentang dangdut di Jepang (hehehehe cuma penasaran apakah Keong Racun mampu meracun Jepang ato tidak hehehe). Judulnya penyanyi bersuara bagus di metromini S72. Sumpah, bagus banget kayak penyanyi beneran, meskipun cuman jadi pengamen... Btw nyanyiin lagunya Janji Manismu ama Bintang Kehidupan.
Aku tahu ini lagu lama, tapi aku minta lagu ini dari temenku dan aku langsung suka sejak intronya mulai. Sebenernya aku kenal YUI dari anime (lagi2), terutama FMA dan Bleach, tp lagu satu ini kyknya gak jadi soundtrack musik apapun deh, dan lagu ini salah satu yg terbaik dari lagu YUI.
Lirik:
Dakara ima ai ni yuku So kimetanda Poketto no kono kyoku wokimi ni kikasetai Sotto boryu-mu wo agete Tashikamete mitayo Oh Good-bye Days Ima, kawaru ki ga suru Kinou made ni So Long Kakko yokunai Yasashisa ga soba ni aru kara La la la la love with you Katahou no earphone wo Kimi ni watasu Yukkuri to nagare komu Kono shunkan Umaku aisete imasu ka? Tama ni mayou kedo
[ From: http://www.metrolyrics.com/goodbye-days-lyrics-yui.html ] Oh Good-bye Days Ima, kawari hajimeta Mune no oku All Right Kakko yokunai Yasashisa ga soba ni aru kara La la la la love with you Dekireba kanashii Omoi nante shitaku nai Demo yattekuru deshou, oh Sono toki egao de "Yeah, Hello My Friend" nante sa Ieta nara ii noni Onaji uta wo Kuchizusamu toki Soba ni ite I Wish Kakko yokunai Yasashisa ni aeta yokatta yo La la la la good-bye days